Tausyiah Singkat

June 5, 2008

Inbox HP penuh (maklum HP lama), saatnya memindahkan sms…

“A winner is someone who always step up 4 every failure.. Jika saja langkah ini tak bertemu tatihnya maka sungguh aku tak hendak memilih DIAM, tapi terus bergerak hingga kujumpa dengan nyata MIMPIKU.. Selamat beraktivitas hari ini, semoga berkah ALLAH selalu terlimpah lewat senyum tulus di wajahmu” [5 Juni 2008, dari Bu Kadiv]

“God loves failures, that’s why there are so many of us. Trying n failing is better than doing nothing and succeed. INSPIRE other failures so that they get up again” [30 Mei 2008, dari Teteh LPMPP]

“You may have someone in your heart, someone in your mind, someone in your life, someone in your soul.. But.. ALLAH is The One when you’ve none or losted someone, ALLAH loves you more than you know” [24 Mei 2008, dari Bu Kadiv]

“Jangan pernah berhenti mengepakkan sayapmu. Biarkan ujian-ujian membuatmu kuat, biarkan jiwa-jiwa sabar menjadi penyejuk bagimu. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar… Smangat![UchanLPMPP27]” [21 Mei 2008, dari -udah jelas-]

“Gunakan kacamata: SYUKUR, ketika kita dianugerahi Allah kesempatan waktu lebih banyak di jalan-Nya. IKHLAS, saat ketidaksempurnaan Allah ujikan kita. SABAR & MAHABBAH pada Allah dalam arungi perjuangan da’wah ini” [14 Mei 2008, dari Teteh LPMPP]

“Betapa baiknya keimanan bila dihiasi dengan ilmu, dan alangkah indahnya ilmu yang dipercantik dengan amal, serta amal yang dipolesi dengan kelembutan (dinukil dari Min Hadyi Salaf fi Thalabil ‘Ilmi:32)” [10 Mei 2008, dari Bu Kadiv]

“Semoga harinya penuh keindahan, penuh pelajaran, penuh hikmah, penuh kebahagiaan.. Tak ada masalah dengan kesulitan, tak ada masalah dengan kesusahan, mari hadapi saja dengan senyuman.. Bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah.. Karena hidup adalah perjuangan, so Selamat Berjuang hari ini!.. SEMANGAT!! ^_^” [7 Mei 2008, dari Akang mantan LPMPP]


Rapat Hari Ini

May 20, 2008

Hari ini ada rapat jam 6.25-8.00 di korut salman. Dipikir-pikir, ngapain juga rapat jam 6-an pas hari libur gini. Kalo hari biasa sih wajar, soalnya jadwal kuliahnya sering bentrok. Seperti biasa, kalo rapat jam segini di korut pasti ada bapak-bapak yang lagi ngepel lantai. Dengan posisi rapat standar, biasanya kami harus bergeser ke depan dan ke belakang sesuai area yang sedang dipel. Berhubung posisi rapat kali ini agak berbeda, kami hanya perlu bergeser ke belakang satu kali, hoho XD

Ok, masuk ke bagian inti. Hasil evaluasi pribadi, belajar dari kesalahan hari ini (yg sebenarnya beberapa kali terulang) :

  • Jangan telat. Bahkan jangan terpikir untuk telat. Karena keterlambatan kita bisa jadi mendzalimi rekan kita yang datang tepat waktu, terutama untuk rapat yang tidak bisa dimulai tanpa kehadiran kita.
  • Tentukan apa yang ingin dihasilkan dari rapat. Setelah rapat tadi selesai saya baru sadar, apa ya hasil rapat barusan? Yang bikin notulen pun bingung…
  • Konfirmasikan rekan-rekan belum hadir pada waktunya. Istilah kerennya tabayyun. Buang jauh-jauh prasangka buruk.
  • Tetapkan tenggat waktu yang jelas untuk setiap agenda rapat.

Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk mengubah apa yang dapat kami ubah, keikhlasan untuk menerima apa yang tidak dapat kami ubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya…


hidup untuk Hidup

April 23, 2008

Buat apa hidup?
Hidup untuk cari makan? Apa bedanya dengan kambing..
Hidup untuk cari uang? Apa bedanya dengan maling..
Lebih berharga jika hidup sesuai keinginan Yang Menciptakan Kehidupan..


inspired by A AGym


Dunia vs Akhirat

March 14, 2008

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu,sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” [TQS. Al-An’aam: 32]

“Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti orang yang mencelupkan salah satu jarinya ke dalam lautan, lihatlah berapa banyak air yang dapat ia ambil.” [HR. Muslim]


Celakalah orang yang shalat (?)

March 10, 2008

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya..” [QS.Al-Ma’un(107): 3-4]

Sebenarnya sudah lama penasaran dengan maksud ayat-ayat ini. Yang menarik, ayat ini tidak langsung menyebutkan, “Maka celakalah orang-orang yang lalai dalam shalat..,” tapi dipisah menjadi dua ayat. Seolah-olah ayat yang pertama ini ingin menarik perhatian orang-orang dulu. Ya iyalah, siapa yang ga kaget kalo ternyata orang yang shalat pun masih bisa celaka. Kata “wail” pada ayat ke-3 ini bisa ditafsirkan sebagai kebinasaan atau kecelakaan. Bahkan ada sejumlah ahli yang menyebutkan bahwa “wail” adalah nama salah satu neraka. Wah! Orang yang shalat bisa masuk neraka!!?? Kok..?

Alhamdulillah rasa penasaran ini bisa cukup terobati, berhubung di rumah ada 4 (empat) buku tafsir tentang ayat ini (thanks to daddy :-) ). Jawabannya ada di ayat berikutnya, “(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.” Keempat buku tersebut memberikan tafsir yang hampir berbeda tentang maksud dari “lalai dalam shalat.” Tapi memang kalo bicara tafsir, kita tidak bisa mengatakan bahwa tafsir ini salah dan tafsir itu benar, karena belum ada yg pernah bertanya langsung kepada Sang Pemfirman :D. Nah, yang dimaksud lalai itu..

      1. Shalatnya bolong-bolong, tergantung mood.
2.
Shalat, tapi ga ngerti makna dari shalatnya.
3.
Mengakhir-akhirkan shalat.
4.
Ga ikhlas. Menganggap shalat sebagai beban.
5.
Tidak sungguh-sungguh (khusyu’) dalam shalat.
6.
Ga ngerti apa yang dibaca. Shalatnya hanya jadi gerakan2 tanpa makna.

Subhanallah, Islam memang menekankan pentingnya kualitas dalam setiap aktivitas kita. Shalat pun ga bisa “asal beres.” Lagipula perintahnya kan menegakkan shalat, bukan sekedar mengerjakan shalat. Kalo dihubungkan dengan kuliah, maka mahasiswa yang “celaka” adalah mahasiswa yang..

      1. Dateng kuliahnya bolong-bolong, tergantung mood.
2.
Kuliah, tapi ga berusaha mengerti isi kuliah.
3.
Baru dateng saat limit menuju batas toleransi keterlambatan.
4.
Menganggap kuliah sebagai beban.
5.
Kuliah ga serius. Cuma niat ngisi daftar hadir.
6.
Ga ngerti apa yang dicatet.

:P [asa ngomongin diri sendiri]


Pertanyaan yang …

February 10, 2008

Coba jawab pertanyaan2 berikut sebelum membaca paragraf berikutnya,

  1. Apakah kita ini pada dasarnya merupakan produk dari keturunan (gen) atau kondisi lingkungan?
  2. (tanpa maksud SARA) Kenapa orang Cina kaya-kaya?
  3. Kamu pilih kuliah atau organisasi?

Ketiga pertanyaan diatas saya sebut pertanyaan yang menjebak. Saya pernah terjebak dengan pertanyaan2 tersebut. Kenapa saya sebut menjebak? Karena pertanyaan2 tersebut membuat kita tidak mampu melihat pilihan2 lain diluar yang diberikan oleh pertanyaan tersebut.

Pertanyaan pertama, misalnya. Kebanyakan orang yang ditanya akan memilih antara kedua pilihan yang diberikan, tanpa memikirkan kemungkinan adanya faktor lain yang menentukan karakter seseorang. Pertanyaan kedua membuat orang fokus untuk memikirkan jawabannya tanpa mempertanyakan kebenaran dari pernyataan dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan ketiga u know lah… Kunci jawaban (belum tentu bener c :P) :

  1. Kita ini bukan hasil dari keturunan (gen atau sifat orang tua kita) maupun kondisi lingkungan atau pendidikan. Kita ini adalah produk dari pilihan yang kita buat sendiri, karena selalu ada ruang antara rangsangan dan tanggapan (Kalo mau lebih ngerti baca 7 Habits atau The 8th Habit)
  2. Kata siapa orang Cina kaya2? :P Sebagian c emang kaya…
  3. Terserah kalian ini mah, kalo saya pilih dua2nya… :D

Pemberani ?

January 18, 2008

 

Pemberani bukanlah orang yang tidak pernah takut, melainkan orang yang berhasil mengalahkan rasa takutnya.. Takut mimpin rapat, takut jadi MC, takut ngomong di depan, sikat aja bleh!


Bismillah…

January 9, 2008

Assalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh

Perkenalkan, mulai hari ini saya adalah Ikhsan Fanani :-) mohon bimbingannya..


Internalisasi Visi Organisasi

January 3, 2008

Secara sederhana, organisasi sering diartikan sebagai sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama. Karena itu kita boleh heran kalau seorang anggota organisasi tidak memahami tujuan organisasinya sendiri. Dalam implementasinya, dalam organisasi akan muncul elemen-elemen seperti pemimpin, sistem, komunikasi, dan sebagainya.

Jika tujuan sudah ditetapkan, maka pergerakan sepelan apapun adalah sebuah kemajuan. Namun jika tidak punya tujuan, bergerak sekencang apa pun bisa jadi malah menuju kehancuran. Ketidakpahaman akan visi rawan terjadi pada organisasi yang melakukan pergantian kepengurusan setiap periode waktu tertentu. Yang berarti dalam organisasi tersebut selalu muncul orang-orang baru, dan kehilangan pemain-pemain lama. Orang-orang baru tersebut biasanya datang dengan visi dan tujuan yang ada di kepala mereka masing-masing. Nah, penanaman visi dan tujuan organisasi ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam organisasi.

Penanaman visi ini, menurut Dr. Jesse Stoner dan Dr. Drea Zigarmi (penulis buku From Vision to Reality), terkait dengan tiga faktor: proses perumusan, penyampaian, dan menghidupkan visi.

Perumusan Visi
Libatkanlah semua elemen dalam proses perumusan visi. Dengan terlibat dalam perumusan visi, seseorang akan memiliki pemahaman, komitmen, dan rasa kepemilikan terhadap visi tersebut. Orang tersebut juga bisa mengetahui kontribusi apa saja yang bisa dia berikan untuk mencapai visi tersebut.

Mengomunikasikan Visi
Pencapaian visi adalah proses yang terus berjalan. Karena itu, visi yang telah dirumuskan tidak cukup jika hanya diumumkan satu kali untuk kemudian dilupakan, melainkan harus disampaikan berulang-ulang. Baik itu di awal rapat, pertemuan, surat, memo, ­e-mail, kartu anggota, atau ditempel pada dinding kantor/sekretariat. Hal ini berguna untuk mengingatkan anggota tentang visi serta menanamkan pemahaman akan pentingnya visi yang ingin dicapai.

Menghidupkan Visi
Visi ada untuk dicapai, bukan sekedar dibuat. Hidupkanlah visi dalam setiap aktivitas organisasi. Baik dalam pengambilan keputusan, penentuan target, maupun dalam tingkah laku sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin. Penting bagi para pemimpin organisasi untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan visi organisasi. Saat anggota lain melihat pemimpin mereka menjiwai visi tersebut, mereka akan memiliki rasa percaya terhadap pemimpin dan termotivasi untuk meniru.
Untuk menjaga fokus terhadap tujuan, sering-seringlah mengajukan pertanyaan:
-> Apakah target yang dibuat sudah sejalan dengan visi?
-> Bagaimana kita mencapai visi yang telah dirumuskan?
-> Sudah sejauh mana ketercapaian visi tersebut?
-> Apakah gerakan kita sudah mengarah pada visi?

—————–

Inspirasi:
[1] Ignite! Newsletter edisi November 2007
[2] Tausyiah AA Gym dan Hermawan Kartajaya, “Berbisnis Dengan Hati”


Bersyukurlah…

December 24, 2007

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-NYA,
bahwa rumahku hanya titipan-NYA,
bahwa hartaku hanya titipan-NYA,
bahwa putraku hanya titipan-NYA,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa DIA menitipkan padaku?
Untuk apa DIA menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan
untuk milik-NYA ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali
oleh-NYA ?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku
ingin lebih banyak
harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak
popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah …semua
“derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah …keadilan dan kasih-NYA harus berjalan
seperti matematika

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat
dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan DIA seolah mitra dagang, dan bukan
Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak
keputusan-NYA yang
tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah
untuk
beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja”

WS Rendra