Selalu ada alasan. Ya, setidaknya itu yang saya dapatkan saat pelantikan pembina (anggota) Karisma Ahad (9 Desember) lalu. Saya yang semula direncanakan berperan sebagai “orang baik” ternyata harus berbalik memainkan peran “orang jahat”. Saat diminta jadi “orang baik,” saya telah berhasil menemukan segudang alasan untuk mendukung para calon anggota. Saat keadaan tidak berjalan sesuai rencana, dan saya harus memerankan “orang jahat,” saya pun berhasil menemukan seribu alasan untuk “menjatuhkan” mereka. Kemudian saya menyadari bahwa selalu ada alasan untuk berbuat. Pada saat yang sama, kita selalu dapat menemukan alasan untuk tidak berbuat. Mungkin dari sinilah sering digambarkan bahwa dalam diri kita kerap kali terjadi perdebatan antara “sisi baik” dan “sisi buruk” kita. Atau antara hati nurani dan hawa nafsu. Yang mana yang harus kita menangkan?
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” [TQS. An-Naazi’aat: 37-41]

Hmmm…jadi kangen sama Karisma nih…
)
By: alfikr on January 17, 2008
at 6:05 pm