Solusi Kemacetan di Jalan

Disampaikan salah seorang rekan lulusan S2 Teknik Sipil sudah lama waktu yang lalu…

Bahwa pelebaran jalan atau pembuatan jalan layang mungkin bukan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan (tapi perbaikan jalan sih iya..). Kenapa? karena diperkirakan jumlah pengguna kendaraan bermotor akan terus meningkat. Bahkan setelah dilakukan simulasi, sekalipun seluruh pengguna jalan menggunakan jalan sesuai peraturan, kemacetan akan tetap terjadi. Karena volume kendaraan yang melebihi daya tampung jalan. Oh iya, motor yang nyelip-nyelip ternyata justru bisa meningkatkan kelancaran lalu lintas :p

Terus, gimana solusinya? Ternyata salah satu solusinya cukup sederhana, mulailah membiasakan diri menggunakan kendaraan umum untuk bepergian, khususnya untuk perjalanan yang tidak begitu jauh. Denger-denger bahkan di Jogja sudah ada kebijakan untuk menggunakan sepeda kalau bepergian dengan jarak kurang dari 5 km (belum dicek lagi). Kalau banyak orang mulai memilih menggunakan kendaraan umum, bisa jadi ada banyak manfaatnya: (ini belum pake analisis macem2)

  1. Mengurangi volume kendaraan -> mengurangi kemacetan
  2. Mengurangi jumlah angkutan umum yang ngetem nunggu penumpang
  3. Mengurangi emisi dari bahan bakar -> membersihkan lingkungan
  4. Memperbanyak silaturahim dengan orang yang belum dikenal (ngarang ini mah)
  5. Menambah penghasilan supir angkutan umum
  6. (ada lagi gak ya?)

Lebih top lagi kalo ditambah kerjasama pemerintah dengan mengurangi pajak untuk kendaraan umum. Harga murah, semua senang.. :D

(oh iya, ada solusi lain, mulailah bepergian menggunakan onta..)

About these ads

6 thoughts on “Solusi Kemacetan di Jalan

  1. Pelebaran jalan itu hanya solusi jangka pendek, bahkan bisa disebut sebagai solusi semu. :(

    Iya, memang harusnya digalakkan bepergian dengan kendaraan umum. Kalo mau gitu, harus ada kajian yang sangat mendalam. Nggak gampang juga lho. Ada sebabnya orang2 gak mau naik angkot. Beberapa diantaranya karena kendaraan umumnya gak nyaman, rumah jauh dari rute angkot, sampai masalah keamanan.

    Harusnya, rute angkutan umum diatur mendekati permukiman penduduk. Syukur kalo bisa melewati, hanya mendekati dalam radius kurang dari 1 km pun sudah bagus. Jangan kejauhan lah, paling nggak 500 meter. Masyarakat juga harus “dipaksa” untuk jalan ke halte atau tempat ngetem angkot2 itu.

    Biasanya, penyebab jalan macet adalah angkot yang suka ngetem atau berhenti nunggu penumpang sembarangan. Kalo mau, harusnya dibuat halte khusus untuk angkot selain bis. Yaaa memang sulit sih, makanya saya bilang butuh kajian yang sungguh2 dan mendalam. Libatkan dosen2 dari ahli transportasi, planologi, sampe sipil. :)

    Cara yang ekstrim, batasi kepemilikan kendaraan pribadi seperti di Singapura. :) Saya tahu, di Singapura yang negara kecil sih mudah mengaturnya. Gimana dengan di Indonesia yang besar ini? Makanya semua pihak harus punya kemauan yang kuat, pasti bisa.

    Di Singapura, seperti yang saya baca di Kompas, tidak semua orang bisa membeli kendaraan pribadi. Ada kuota kendaraan tiap tahunnya. Jadi, mau gak mau penduduk bakalan menggunakan angkutan umum (terlepas dari angkutan di sana udah nyaman dan cepat, seperti MRT dan bisnya).

    Untuk mengurangi polusi akibat emisi, di sana ada aturan kendaraan yang boleh digunakan hanya yang berumur 5 tahun ke bawah. Di atas 5 tahun, harus diperiksa kembali apakah masih layak atau tidak, dan itupun harus bayar. :D Semua kendaraan pun tiap tahun harus diperiksakan, wajib!

    Luar biasa, kan?

  2. Ato juga bisa gunakan sistem “park and ride” seperti yang didengung-dengungkan oleh pejabat2 di Jakarta. Sebenernya sistem ini boleh juga, tinggal keamanannya aja.
    Jadi penjelasannya gini:
    Anda berangkat dari rumah ke halte busway menggunakan motor, parkir motornya di parkiran halte (atau dekat halte), dan Anda ganti moda transportasi ke bus untuk berangkat ke tempat kerja Anda.
    Seperti itu. :)

    Makanya, tinggal implementasi parkir untuk kendaraan pribadi dan faktor keamanannya aja…. Pasti ada rasa takut meninggalkan kendaraan di tempat umum dan jauh dari diri kita. Sekali lagi, keamanan juga faktor yang penting. :) Berikanlah rasa aman pada masyarakat, dan masyarakat akan mengikuti Anda. :lol:
    *ngomong apa sih saya*

    • Haha, iyah, betul2, memang masih perlu kajian mendalam.. plus orang-orang yang mau ngurusin ( anak PWK kayaknya bisa nih :p ). Soalnya dari penjualan kendaraan itu juga yang bisa menggerakkan perekonomian. Tapi kalo mikirnya jangka pendek terus ya susah majunya..

      Sayangnya sebagian wilayah masih diurus sama ‘orang-orang yang populer’, bukan yang ‘kompeten’, yah PR kita lah.. :D

      *saya juga ngomong apa sih*

      • Memang sebenernya kalo punya kemauan yang kuat dan tegas, pemerintah bisa kok. :( Mereka sering kali kalah ama tekanan dari pengusaha2 besar yang merasa berkuasa. :mad:

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s