Posted by: ikhfa | January 3, 2008

Internalisasi Visi Organisasi

Secara sederhana, organisasi sering diartikan sebagai sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama. Karena itu kita boleh heran kalau seorang anggota organisasi tidak memahami tujuan organisasinya sendiri. Dalam implementasinya, dalam organisasi akan muncul elemen-elemen seperti pemimpin, sistem, komunikasi, dan sebagainya.

Jika tujuan sudah ditetapkan, maka pergerakan sepelan apapun adalah sebuah kemajuan. Namun jika tidak punya tujuan, bergerak sekencang apa pun bisa jadi malah menuju kehancuran. Ketidakpahaman akan visi rawan terjadi pada organisasi yang melakukan pergantian kepengurusan setiap periode waktu tertentu. Yang berarti dalam organisasi tersebut selalu muncul orang-orang baru, dan kehilangan pemain-pemain lama. Orang-orang baru tersebut biasanya datang dengan visi dan tujuan yang ada di kepala mereka masing-masing. Nah, penanaman visi dan tujuan organisasi ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam organisasi.

Penanaman visi ini, menurut Dr. Jesse Stoner dan Dr. Drea Zigarmi (penulis buku From Vision to Reality), terkait dengan tiga faktor: proses perumusan, penyampaian, dan menghidupkan visi.

Perumusan Visi
Libatkanlah semua elemen dalam proses perumusan visi. Dengan terlibat dalam perumusan visi, seseorang akan memiliki pemahaman, komitmen, dan rasa kepemilikan terhadap visi tersebut. Orang tersebut juga bisa mengetahui kontribusi apa saja yang bisa dia berikan untuk mencapai visi tersebut.

Mengomunikasikan Visi
Pencapaian visi adalah proses yang terus berjalan. Karena itu, visi yang telah dirumuskan tidak cukup jika hanya diumumkan satu kali untuk kemudian dilupakan, melainkan harus disampaikan berulang-ulang. Baik itu di awal rapat, pertemuan, surat, memo, ­e-mail, kartu anggota, atau ditempel pada dinding kantor/sekretariat. Hal ini berguna untuk mengingatkan anggota tentang visi serta menanamkan pemahaman akan pentingnya visi yang ingin dicapai.

Menghidupkan Visi
Visi ada untuk dicapai, bukan sekedar dibuat. Hidupkanlah visi dalam setiap aktivitas organisasi. Baik dalam pengambilan keputusan, penentuan target, maupun dalam tingkah laku sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin. Penting bagi para pemimpin organisasi untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan visi organisasi. Saat anggota lain melihat pemimpin mereka menjiwai visi tersebut, mereka akan memiliki rasa percaya terhadap pemimpin dan termotivasi untuk meniru.
Untuk menjaga fokus terhadap tujuan, sering-seringlah mengajukan pertanyaan:
-> Apakah target yang dibuat sudah sejalan dengan visi?
-> Bagaimana kita mencapai visi yang telah dirumuskan?
-> Sudah sejauh mana ketercapaian visi tersebut?
-> Apakah gerakan kita sudah mengarah pada visi?

—————–

Inspirasi:
[1] Ignite! Newsletter edisi November 2007
[2] Tausyiah AA Gym dan Hermawan Kartajaya, “Berbisnis Dengan Hati”

Posted by: ikhfa | December 24, 2007

Bersyukurlah…

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-NYA,
bahwa rumahku hanya titipan-NYA,
bahwa hartaku hanya titipan-NYA,
bahwa putraku hanya titipan-NYA,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa DIA menitipkan padaku?
Untuk apa DIA menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan
untuk milik-NYA ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali
oleh-NYA ?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku
ingin lebih banyak
harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak
popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah …semua
“derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah …keadilan dan kasih-NYA harus berjalan
seperti matematika

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat
dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan DIA seolah mitra dagang, dan bukan
Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak
keputusan-NYA yang
tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah
untuk
beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja”

WS Rendra

Posted by: ikhfa | December 21, 2007

Mencintai Sang Pemilik Cinta

Tiga perkara, apabila ketiga perkara itu ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman; apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai oleh dirinya dan tidak ada selain dari keduanya yang lebih dicintai, dan tidaklah ia mencintai seseorang kecuali cinta karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam api.” [1]

Seingat saya ada dua orang yang pernah bertanya ke saya, “Bagaimana caranya mencintai Allah?” Karena bukan ahli dalam masalah ini (lieur cinta2an mah) saya pun bertanya kepada beberapa orang. Ada yang menyarankan baca buku Tauhid-nya Syaikh at-Tamimy. Ada juga yang (tampak) mengerti tapi kesulitan menjelaskannya.

Jawaban yang cukup inspiratif dan praktis justru saya dapat dari bukunya Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly Effective People. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa suatu hari ada yang mengadu kepada Covey bahwa dia sudah tidak lagi mencintai istrinya. Covey hanya mengatakan, “Kalau begitu cintailah istrimu.” Orang itu malah kebingungan, “Lha, udah dibilang udah ga cinta lagi..” Covey kemudian menjelaskan bahwa ‘cinta’ adalah kata kerja, bukan sekedar perasaan. Mencintai seseorang berarti berkorban untuknya, memberikan perhatian, melakukan hal-hal yang disukainya, sering mengingatnya, dsb. Mungkin itu juga yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta kita pada Sang Cinta..

Luangkanlah banyak waktu untuk bertemu denganNya…

Sering-seringlah mengingatNya…

Rindulah bertemu denganNya…

Bersegeralah menyambut panggilanNya…

Lakukanlah hal-hal yang disukaiNya…

Tinggalkanlah hal-hal yang dibenciNya…

Lakukanlah yang terbaik, karena Dia selalu memperhatikanmu…

[…silakan tambahkan sendiri…]

Bagi yang sudah pernah merasakan jatuh cinta tentu bisa dengan mudah menerjemahkan ‘aktivitas-aktivitas cinta’ tersebut. Bagaimana kita selalu ingat namanya, tergetar ketika ada yang menyebut namanya, ingin selalu jadi orang pertama yang membantunya, ingin berbuat yang terbaik ketika dia melihat, mencari tahu hal-hal yang disukainya, dll. Entah apakah ini cukup menjawab. Bagaimana menurut Anda?

—————————-

[1]    Shahih Al-Bukhari no. 16, 21, 6401 dan 6941 dan Shahih Muslim no. 67 dan 68, HR. Tirmidzi no. 2624, dan HR. Nasa’i no. 4990, 4991, dan 4992.

Posted by: ikhfa | December 11, 2007

Selalu ada alasan

dsc01931.jpgSelalu ada alasan. Ya, setidaknya itu yang saya dapatkan saat pelantikan pembina (anggota) Karisma Ahad (9 Desember) lalu. Saya yang semula direncanakan berperan sebagai “orang baik” ternyata harus berbalik memainkan peran “orang jahat”. Saat diminta jadi “orang baik,” saya telah berhasil menemukan segudang alasan untuk mendukung para calon anggota. Saat keadaan tidak berjalan sesuai rencana, dan saya harus memerankan “orang jahat,” saya pun berhasil menemukan seribu alasan untuk “menjatuhkan” mereka. Kemudian saya menyadari bahwa selalu ada alasan untuk berbuat. Pada saat yang sama, kita selalu dapat menemukan alasan untuk tidak berbuat. Mungkin dari sinilah sering digambarkan bahwa dalam diri kita kerap kali terjadi perdebatan antara “sisi baik” dan “sisi buruk” kita. Atau antara hati nurani dan hawa nafsu. Yang mana yang harus kita menangkan?

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” [TQS. An-Naazi’aat: 37-41]

Posted by: ikhfa | November 28, 2007

Subhanallah, Alhamdulillah..

di saat sedang dikeroyok tugas2 kuliah n amanah2 organisasi, dateng sms..

 

Tidak sulit bagiNya memberi/mencabut. Jika Dia dengan mudah menghidupkan manusia, bukankah tidak tidak sulit juga bagiNya mematikannya? Jika dengan mudah Dia memilih manusia memegang amanahNya, bukankah tidak sulit bagiNya menolong?

 

subhanallah.. SMS ini datang dari nomor tak dikenal. Belum ada pulsa buat ngecek siapa pengirimnya.. :P

Posted by: ikhfa | November 24, 2007

Amanah itu…

Memang itu bukan milikku

Namun sudah di tangan

Kadang ingin kulepas

Tapi tidak!!

Jangan coba-coba ambil dariku

Aku sudah memulainya

Akulah yang akan mengakhirinya

Posted by: ikhfa | November 15, 2007

Nangka

Nangka

 

Sore kemarin saya makan nangka. Enak banget, manis. Terpikir, “Luar biasa Allah Menciptakan nangka yang begini enak” :-)

nb: yg di sebelah ini bukan gambar sebenarnya, nyari di google :P

Posted by: ikhfa | November 8, 2007

Servant Leadership

Kamis lalu, ba’da UTS, saya jalan2 ke toko buku Toga Mas di Jln. Supratman. Baru aja masuk, hujan turun. Akhirnya saya mengisi waktu dengan melihat-lihat buku. Banyak sekali buku yang bagus (murah pula J). Ada buku yang menarik, judulnya Servant Leadership. Mungkin kalo bahasa Indonesianya “Kepemimpinan Melayani.” Tertarik dengan cover dan judulnya, saya membaca tulisan-tulisan di cover belakangnya (bukunya masih dibungkus L).

Intinya sih, ketika mendapat kedudukan sebagai pemimpin, ketua, ketua divisi, ketua departemen, dsb, yang kita dapatkan bukanlah otoritas. Bukan dapet hak buat nyuruh2. Tapi justru kita bertanggung jawab “melayani” orang-orang yang kita pimpin.

Posted by: ikhfa | October 24, 2007

Sudah bersyukur?

tadi pagi, di motor, dalam perjalanan ke kampus, tiba2 saya teringat ayat ini..

“..kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Terjemah QS. Al-Insan(76): 9]

Entah kenapa. Yang jelas, seinget saya, ayat ini dijadikan motto oleh salah seorang (mantan) aktivis senior di kampus (kalo gak salah angkatan ‘98). Yang menarik, kata ‘syukuura’ pada akhir ayat ini, ternyata diterjemahkan menjadi ‘terima kasih.’ Well, ternyata ‘syukur’ dan ‘terima kasih’ berasal dari kata yang sama. Saya jadi terpikir sebuah analogi,

Ketika seseorang memberi kita hadiah, coklat Cadbury atau apa gitu, maka cara kita berterima kasih adalah dengan tersenyum manis dan memakan coklat pemberian itu (selain bilang terima kasih, tentunya). Atau minimal kita berikan ke orang lain. Coba bayangkan ekspresi si pemberi hadiah, ketika coklat pemberiannya kita lempar ke tanah, lalu kita injak-injak. Atau kita buang ke tong sampah tepat di depan matanya. Beuh, ga kebayang tuh ekspresinya.

Salah satu tausyiah favorit dari ayah. Syukur adalah menggunakan nikmat/pemberian dari Allah untuk melakukan ketaatan padaNya.

Nah, bagaimana dengan ‘pemberian’ dari Allah. Pemberian berupa waktu, kesehatan, atau masa muda? Sudahkah kita berterima kasih? Sudahkah kita bersyukur? Atau masih kita buang2 dan kita sia2kan?

Posted by: ikhfa | October 22, 2007

Rich Dad, Poor Dad (Resep jadi orang kaya)

EBTI0202.jpg

Judul Buku

Rich Dad, Poor Dad

Pengarang

Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L. Lechter C.P.A.

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan 18, Maret 2005)

Jumlah Halaman

xxv + 238 halaman

 

Apakah sekolah menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi dunia yang riil?

Kita sudah hapal nasihat kebanyakan orang tua, “Pergilah ke sekolah, belajar yang rajin, raihlah ranking yang tinggi, dan carilah pekerjaan yang aman dan terjamin.” Inilah nasihat yang cukup ‘berbahaya’ bagi seorang anak untuk masa depan finansialnya, karena bisa menjebaknya masuk ke dalam -yg oleh penulis disebut sebagai- Perlombaan Tikus (Rat Race).

Alur hidup yang standar:

Sekolah (TK, SD, SMP, SMA) -> Kuliah -> Kerja -> Nikah -> Kebutuhan meningkat (rumah, kendaraan, TV) -> Kerja makin keras -> Kebutuhan meningkat (anak, kenaikan harga) -> Kerja makin keras -> Kebutuhan meningkat (keperluan anak, pendidikan) -> Kerja makin keras -> …

Yang tidak disadari kebanyakan orang adalah semakin keras mereka bekerja, semakin besar pajak yang harus dibayar, semakin besar pula ketergantungan mereka pada perusahaan tempat mereka bekerja. PHK menjadi sesuatu yang sangat ditakuti.

Buku ini memberikan 6 (enam) pelajaran yang diperoleh penulis dari dua orang ayahnya tentang kecerdasan finansial.

Pelajaran #1 Orang Kaya Tidak Bekerja untuk Uang

Pelajaran #2 Mengapa Mengajarkan Melek Finansial?

Pelajaran #3 Uruslah Bisnis Anda Sendiri

Pelajaran #4 Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi

Pelajaran #5 Orang Kaya Menciptakan Uang

Pelajaran #6 Bekerja untuk Belajar – Jangan Bekerja untuk Uang

Bukan sekedar teori, sebab pada bab-bab terakhir penulis pun memberikan langkah-langkah yang dilakukannya untuk memulai meraih kesuksesan finansial.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories