Sudah bersyukur?

tadi pagi, di motor, dalam perjalanan ke kampus, tiba2 saya teringat ayat ini..

“..kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Terjemah QS. Al-Insan(76): 9]

Entah kenapa. Yang jelas, seinget saya, ayat ini dijadikan motto oleh salah seorang (mantan) aktivis senior di kampus (kalo gak salah angkatan ‘98). Yang menarik, kata ‘syukuura’ pada akhir ayat ini, ternyata diterjemahkan menjadi ‘terima kasih.’ Well, ternyata ‘syukur’ dan ‘terima kasih’ berasal dari kata yang sama. Saya jadi terpikir sebuah analogi,

Ketika seseorang memberi kita hadiah, coklat Cadbury atau apa gitu, maka cara kita berterima kasih adalah dengan tersenyum manis dan memakan coklat pemberian itu (selain bilang terima kasih, tentunya). Atau minimal kita berikan ke orang lain. Coba bayangkan ekspresi si pemberi hadiah, ketika coklat pemberiannya kita lempar ke tanah, lalu kita injak-injak. Atau kita buang ke tong sampah tepat di depan matanya. Beuh, ga kebayang tuh ekspresinya.

Salah satu tausyiah favorit dari ayah. Syukur adalah menggunakan nikmat/pemberian dari Allah untuk melakukan ketaatan padaNya.

Nah, bagaimana dengan ‘pemberian’ dari Allah. Pemberian berupa waktu, kesehatan, atau masa muda? Sudahkah kita berterima kasih? Sudahkah kita bersyukur? Atau masih kita buang2 dan kita sia2kan?

Rich Dad, Poor Dad (Resep jadi orang kaya)

EBTI0202.jpg

Judul Buku

Rich Dad, Poor Dad

Pengarang

Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L. Lechter C.P.A.

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan 18, Maret 2005)

Jumlah Halaman

xxv + 238 halaman

 

Apakah sekolah menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi dunia yang riil?

Kita sudah hapal nasihat kebanyakan orang tua, “Pergilah ke sekolah, belajar yang rajin, raihlah ranking yang tinggi, dan carilah pekerjaan yang aman dan terjamin.” Inilah nasihat yang cukup ‘berbahaya’ bagi seorang anak untuk masa depan finansialnya, karena bisa menjebaknya masuk ke dalam -yg oleh penulis disebut sebagai- Perlombaan Tikus (Rat Race).

Alur hidup yang standar:

Sekolah (TK, SD, SMP, SMA) -> Kuliah -> Kerja -> Nikah -> Kebutuhan meningkat (rumah, kendaraan, TV) -> Kerja makin keras -> Kebutuhan meningkat (anak, kenaikan harga) -> Kerja makin keras -> Kebutuhan meningkat (keperluan anak, pendidikan) -> Kerja makin keras -> …

Yang tidak disadari kebanyakan orang adalah semakin keras mereka bekerja, semakin besar pajak yang harus dibayar, semakin besar pula ketergantungan mereka pada perusahaan tempat mereka bekerja. PHK menjadi sesuatu yang sangat ditakuti.

Buku ini memberikan 6 (enam) pelajaran yang diperoleh penulis dari dua orang ayahnya tentang kecerdasan finansial.

Pelajaran #1 Orang Kaya Tidak Bekerja untuk Uang

Pelajaran #2 Mengapa Mengajarkan Melek Finansial?

Pelajaran #3 Uruslah Bisnis Anda Sendiri

Pelajaran #4 Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi

Pelajaran #5 Orang Kaya Menciptakan Uang

Pelajaran #6 Bekerja untuk Belajar – Jangan Bekerja untuk Uang

Bukan sekedar teori, sebab pada bab-bab terakhir penulis pun memberikan langkah-langkah yang dilakukannya untuk memulai meraih kesuksesan finansial.

Apa Itu Islam?

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri (Islam) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?” (Terjemah QS. Ali Imran: 83)

Mengapa mereka mencari agama selain Islam, padahal seluruh alam semesta ini telah Islam sejak dulu? Layar monitor di hadapan Anda, jika dilemparkan, pasti jatuh ke bawah. Kenapa? Karena layar monitor Anda telah Islam. Mungkin kita familiar dengan Hukum Newton. Hukum Newton itu bukan hukumnya si Newton lho. Tapi Hukum Allah yang ditemukan Newton. Karena sebelum Newton lahir pun apel itu pasti jatuhnya ke bawah.

Islam itu berarti penyerahan diri. Tunduk patuh pada aturan Allah. Tunduk patuh pada sunnatullah. Seluruh alam semesta ini sudah Islam sejak dulu. Nah, sudahkah kita Islam?

Niat dan Ikhlas

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya orang yg pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yg engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan, ‘Dia orang yg gagah berani’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.”

“Berikutnya (yang diadili) adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yg engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?‘. Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu supaya dikatakan, ‘Dia adalah orang yg berilmu, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan, ‘engkau adalah Qari’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Berikutnya (yang diadili) adalah orang yg diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yg engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?‘. Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yg Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian dia diperintah agar diseret dengan wajah tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

(Diriwayatkan Muslim, An-Nasa’y, At-Tirmidzy dan Ibnu Hibban)

Subhanallah, merinding baca hadits ini…