Sudah bersyukur?

tadi pagi, di motor, dalam perjalanan ke kampus, tiba2 saya teringat ayat ini..

“..kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Terjemah QS. Al-Insan(76): 9]

Entah kenapa. Yang jelas, seinget saya, ayat ini dijadikan motto oleh salah seorang (mantan) aktivis senior di kampus (kalo gak salah angkatan ‘98). Yang menarik, kata ‘syukuura’ pada akhir ayat ini, ternyata diterjemahkan menjadi ‘terima kasih.’ Well, ternyata ‘syukur’ dan ‘terima kasih’ berasal dari kata yang sama. Saya jadi terpikir sebuah analogi,

Ketika seseorang memberi kita hadiah, coklat Cadbury atau apa gitu, maka cara kita berterima kasih adalah dengan tersenyum manis dan memakan coklat pemberian itu (selain bilang terima kasih, tentunya). Atau minimal kita berikan ke orang lain. Coba bayangkan ekspresi si pemberi hadiah, ketika coklat pemberiannya kita lempar ke tanah, lalu kita injak-injak. Atau kita buang ke tong sampah tepat di depan matanya. Beuh, ga kebayang tuh ekspresinya.

Salah satu tausyiah favorit dari ayah. Syukur adalah menggunakan nikmat/pemberian dari Allah untuk melakukan ketaatan padaNya.

Nah, bagaimana dengan ‘pemberian’ dari Allah. Pemberian berupa waktu, kesehatan, atau masa muda? Sudahkah kita berterima kasih? Sudahkah kita bersyukur? Atau masih kita buang2 dan kita sia2kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s