Internalisasi Visi Organisasi

Secara sederhana, organisasi sering diartikan sebagai sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama. Karena itu kita boleh heran kalau seorang anggota organisasi tidak memahami tujuan organisasinya sendiri. Dalam implementasinya, dalam organisasi akan muncul elemen-elemen seperti pemimpin, sistem, komunikasi, dan sebagainya.

Jika tujuan sudah ditetapkan, maka pergerakan sepelan apapun adalah sebuah kemajuan. Namun jika tidak punya tujuan, bergerak sekencang apa pun bisa jadi malah menuju kehancuran. Ketidakpahaman akan visi rawan terjadi pada organisasi yang melakukan pergantian kepengurusan setiap periode waktu tertentu. Yang berarti dalam organisasi tersebut selalu muncul orang-orang baru, dan kehilangan pemain-pemain lama. Orang-orang baru tersebut biasanya datang dengan visi dan tujuan yang ada di kepala mereka masing-masing. Nah, penanaman visi dan tujuan organisasi ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam organisasi.

Penanaman visi ini, menurut Dr. Jesse Stoner dan Dr. Drea Zigarmi (penulis buku From Vision to Reality), terkait dengan tiga faktor: proses perumusan, penyampaian, dan menghidupkan visi.

Perumusan Visi
Libatkanlah semua elemen dalam proses perumusan visi. Dengan terlibat dalam perumusan visi, seseorang akan memiliki pemahaman, komitmen, dan rasa kepemilikan terhadap visi tersebut. Orang tersebut juga bisa mengetahui kontribusi apa saja yang bisa dia berikan untuk mencapai visi tersebut.

Mengomunikasikan Visi
Pencapaian visi adalah proses yang terus berjalan. Karena itu, visi yang telah dirumuskan tidak cukup jika hanya diumumkan satu kali untuk kemudian dilupakan, melainkan harus disampaikan berulang-ulang. Baik itu di awal rapat, pertemuan, surat, memo, ­e-mail, kartu anggota, atau ditempel pada dinding kantor/sekretariat. Hal ini berguna untuk mengingatkan anggota tentang visi serta menanamkan pemahaman akan pentingnya visi yang ingin dicapai.

Menghidupkan Visi
Visi ada untuk dicapai, bukan sekedar dibuat. Hidupkanlah visi dalam setiap aktivitas organisasi. Baik dalam pengambilan keputusan, penentuan target, maupun dalam tingkah laku sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin. Penting bagi para pemimpin organisasi untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan visi organisasi. Saat anggota lain melihat pemimpin mereka menjiwai visi tersebut, mereka akan memiliki rasa percaya terhadap pemimpin dan termotivasi untuk meniru.
Untuk menjaga fokus terhadap tujuan, sering-seringlah mengajukan pertanyaan:
-> Apakah target yang dibuat sudah sejalan dengan visi?
-> Bagaimana kita mencapai visi yang telah dirumuskan?
-> Sudah sejauh mana ketercapaian visi tersebut?
-> Apakah gerakan kita sudah mengarah pada visi?

—————–

Inspirasi:
[1] Ignite! Newsletter edisi November 2007
[2] Tausyiah AA Gym dan Hermawan Kartajaya, “Berbisnis Dengan Hati”

2 thoughts on “Internalisasi Visi Organisasi

  1. “Orang-orang baru tersebut biasanya datang dengan visi dan tujuan yang ada di kepala mereka masing-masing”

    Jadi visi itu apa, San?

    contoh yg sering dipake.. tujuan itu tempat yang mau kita tuju (cimahi, misalnya). visi itu apa yang mau kita lakukan/capai di tempat yang kita tuju tersebut..

  2. bisa dijelaskan tentang faktor-faktor dari visi..,?hal ini sangat sy perlukan untuk kepentingan penyelesaian tesis…termiakash sebelumnya….
    hormat saya

    helmi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s