Rahasia Hubungan Langgeng

Ini sebenarnya potongan khutbah nikah yang disampaikan Ustadz Abu Yahya di akad nikahnya Nadia Fithriani dengan Haryo Prabowo di Masjid Nurul ‘Ilmi PoltekPos tanggal 25 Juli 2010 yang lalu. Walaupun konteksnya pernikahan, disambung-sambungin aja ke kehidupan sehari-hari😉

Di awal Ustadz membahas tentang keagungan pernikahan. Kalau zina adalah dosa besar -yang menyebarkan, mendekati, apalagi melakukannya dilarang oleh agama-, maka pernikahan pun adalah sebuah ibadah yang agung… <- bagian ini memang tentang nikah, sulit diinterpretasikan ke hal yang lain, jadi di-skip dulu aja.. :p

Kemudian Ustadz memaparkan hasil penelitian tentang kelanggengan pernikahan di beberapa kelompok masyarakat. Kelompok pertama yang diteliti adalah kelompok masyarakat modern di sebuah negara yang kebanyakan pernikahannya berakhir dengan perceraian. Kelompok kedua adalah masyarakat pedesaan yang kebanyakan pernikahannya langgeng sampai mati. Nah, kok bisa beda?

Ternyata..

Kelompok pertama, ketika akan menikah lebih fokus kepada siapa yang akan dia nikahi atau apa yang akan dia dapatkan dari calon pasangannya. Pesan yang umum yang disampaikan kepada anak yang akan menikah adalah, “Kamu harus cari calon yang begini begini..”, “Kamu harus cari pasangan yang begitu begitu..” Sehingga beberapa waktu setelah menikah dan mengetahui ‘wujud asli’ dari pasangannya -yang ternyata tidak sesuai harapan- sang anak pun merasa tertipu dan dalam beberapa kasus berakhir dengan perceraian.

Kalo dibuat grafik cintanya, pake diagram kartesius, maka grafiknya berawal di puncak, dan seiring waktu berjalan terus turun sampai habis..

Kelompok kedua, ketika akan menikah fokus kepada kewajibannya setelah menikah. Pesan yang umum disampaikan kepada anak yang akan menikah adalah, “Nak, ntar kalo udah jadi suami kamu harus begini begini..”, “Ntar kalo udah jadi istri kamu harus begitu begitu..”

Kalo pake grafik cinta, maka grafiknya berawal di bawah, terus naik, dan stabil di puncak..

Nah, gitu deh. Jadi kalo mau langgeng, fokus ke kewajiban dulu aja. Kalo setiap pihak menjalankan kewajibannya dulu, insya Allah hubungan bakal langgeng. Langgeng dengan keluarga, langgeng dengan organisasi, langgeng dengan kelompok pembinaan, langgeng dengan teman2, langgeng dengan sepatu, kamar, baju, laptop, kucing, motor, kacamata, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s