[Buku] Broken Crucifix – Detik Detik Hancurnya Tentara Salib

Broken Crucifix

Judul Terjemahan: Broken Crucifix, Detik-Detik Hancurnya Tentara Salib

Judul Asli: Da’watu al-Imam al-Ghazali fi at-Tajdiid wa al-Islaah (Dakwah Imam Al-Ghazali dalam Pembaharuan dan Perbaikan)

Penulis: Dr. Ir. Ali Muhammad Ash-Shalaby

Penerbit: Lentera Optima Pustaka (LOP)

Tebal Buku: xviii + 202 halaman

..bahwa penyakit yang paling kronis adalah tidak adanya ‘dokter’. Karena para ‘dokter’ yang berperan sebagai ulama, sedang mengidap penyakit kronis itu pula.” -Imam Al-Ghazali

Jika Anda berharap akan membaca kisah heroik perjuangan Nuruddin Zanki atau Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib, maka bersiap-siaplah untuk kecewa ;). Yap, judul terjemahan yang diberikan oleh penerbit memang agak misleading, karena buku ini tidak membahas mengenai kisah Perang Salib, selain beberapa halaman terakhir yang membahas kiprah Nuruddin Zanki dan Shalahuddin  Al-Ayyubi secara umum. Judul asli dari buku ini mungkin bisa lebih tepat menjelaskan isi dari buku ini, yaitu mengenai “Dakwah Imam Al-Ghazali dalam Pembaharuan dan Perbaikan.

Kisah dalam buku ini berawal pada tahun 455 H, yaitu saat pengangkatan Nizhamul Mulk (Hasan bin Ali bin Ishaq at-Thusy) sebagai Menteri oleh Sultan Alib Arsalan, sekitar 120 tahun sebelum pembebasan Yerusalem dari cengkraman Pasukan Salib. Masyarakat pada masa itu tengah mengalami berbagai ‘penyakit kronis’ yang menjangkiti pemikiran dan aqidah mereka. Hal ini ditandai dengan berkembangnya aliran Syiah Rafidhah, Bathiniyah, Tsanawiyah, Tasawwuf yang menyimpang, Filsafat, dan lain-lain.

Nah, buku ini mengupas sepak terjang Nizhamul Mulk dan Imam Al-Ghazali dalam membersihkan berbagai paham dan aliran menyimpang yang berkembang dalam tubuh ummat, serta membangun basis keilmuan yang berlandaskan sumber-sumber asli ajaran Islam. Shalahuddin Al-Ayyubi pun nantinya adalah salah satu ‘produk’ dari rekayasa ini.

Nah, dari kisah dalam buku ini kita belajar untuk menyadari pentingnya menelisik akar permasalahan ummat (tipping point, dalam bahasa Malcolm Gladwell) dan panjangnya perjalanan untuk memperbaiki dan membangun generasi. Wallaahu a’lam.

Rich Dad, Poor Dad (Resep jadi orang kaya)

EBTI0202.jpg

Judul Buku

Rich Dad, Poor Dad

Pengarang

Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L. Lechter C.P.A.

Penerbit

PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan 18, Maret 2005)

Jumlah Halaman

xxv + 238 halaman

 

Apakah sekolah menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi dunia yang riil?

Kita sudah hapal nasihat kebanyakan orang tua, “Pergilah ke sekolah, belajar yang rajin, raihlah ranking yang tinggi, dan carilah pekerjaan yang aman dan terjamin.” Inilah nasihat yang cukup ‘berbahaya’ bagi seorang anak untuk masa depan finansialnya, karena bisa menjebaknya masuk ke dalam -yg oleh penulis disebut sebagai- Perlombaan Tikus (Rat Race).

Alur hidup yang standar:

Sekolah (TK, SD, SMP, SMA) -> Kuliah -> Kerja -> Nikah -> Kebutuhan meningkat (rumah, kendaraan, TV) -> Kerja makin keras -> Kebutuhan meningkat (anak, kenaikan harga) -> Kerja makin keras -> Kebutuhan meningkat (keperluan anak, pendidikan) -> Kerja makin keras -> …

Yang tidak disadari kebanyakan orang adalah semakin keras mereka bekerja, semakin besar pajak yang harus dibayar, semakin besar pula ketergantungan mereka pada perusahaan tempat mereka bekerja. PHK menjadi sesuatu yang sangat ditakuti.

Buku ini memberikan 6 (enam) pelajaran yang diperoleh penulis dari dua orang ayahnya tentang kecerdasan finansial.

Pelajaran #1 Orang Kaya Tidak Bekerja untuk Uang

Pelajaran #2 Mengapa Mengajarkan Melek Finansial?

Pelajaran #3 Uruslah Bisnis Anda Sendiri

Pelajaran #4 Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi

Pelajaran #5 Orang Kaya Menciptakan Uang

Pelajaran #6 Bekerja untuk Belajar – Jangan Bekerja untuk Uang

Bukan sekedar teori, sebab pada bab-bab terakhir penulis pun memberikan langkah-langkah yang dilakukannya untuk memulai meraih kesuksesan finansial.