“Dalam forum BPUPKI, tokoh-tokoh Islam seperti Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, dan Ki Bagus Hadi Kusumo berhasil memasukkan nilai-nilai Islam dalam dasar negara Pancasila. Salahnya adalah tafsir Pancasila dibajak oleh kaum sekuler. Oleh karena itu tugas kita bukan memulai penegakan syariat Islam, tapi melanjutkan dan menyempurnakan apa yang telah diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Islam sejak dulu.”

Mengukur Kesempatan

oleh : Muhammad Elvandi Lc.

Jika garis tanggung jawab itu mulai dari usia baligh, lalu dimana akhirnya? Kapan seorang pemuda merintis misi-misi besarnya dan kapan bendera kejayaan dipancangkan di puncaknya? Berapa lama waktu yang tersedia antara awal dan puncak karya itu?

Akhir masa kerja seorang muslim ditutup oleh ajal. Rentang waktu yang tersedia itulah kesempatan manusia bekerja, hanya itu. Bahkan di dalam kesempatan itu masih tersimpan berperiode musim. Tidak semuanya musim semi amal dan hangat semangat atau mekar karya dan subur kinerja. Karena akan tiba masa gugurnya hingga dingin yang menusuk, salju yang membekukan sendi potensi dan hingga diselesaikan kematian. Dari pemahaman ini para pemuda muslim pencetak sejarah mengoptimalkan musim semi kerja yang sering disebut masa muda. Baca lebih lanjut

Indahnya Bertaubat

Seorang ahli hikmah berkata:  “Kadang-kadang seorang hamba melakukan dosa, tetapi karenanya dia masuk surga; dan kadang-kadang melakukan ketaatan tetapi karenanya dia masuk neraka”.

Orang-orang bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”

Ia menjawab, “Dia melakukan suatu dosa, kemudian dosanya selalu tampak di pelupuk matanya. Ketika berdiri, duduk, berjalan, ia selalu ingat dosanya, sehingga hatinya remuk redam, bertaubat, beristighfar dan menyesal. Semua itu menjadi penyebab keselamatan dirinya”.

“Sebaliknya, seseorang melakukan amal kebaikan, kemudian kebaikannya selalu tampak di pelupuk matanya, ketika berdiri, duduk dan berjalan. Setiap kali ingat kebaikannya, ia merasa ujub, takabur dan telah berjasa, sehingga hal itu menjadi penyebab kebinasaannya”, demikian sang ahli hikmah menjelaskan.

(Kitab Madarijus Salikiin, Bab Indahnya Orang Yang Bertaubat, Hal. 414).

–> diambil dari sini

3 Rukun Impian

Perlu ditegaskan bahwa seseorang yang mengharapkan sesuatu, maka ia dituntut melakukan tiga hal sebagai konsekuensi logisnya:

Pertama, ia harus mencintai sesuatu tersebut. Kedua, ia takut dan khawatir tidak mendapatkan sesuatu itu. Ketiga, ia harus menggerakkan segala daya upaya untuk mendapatkan sesuatu tersebut.

Jika pengharapannya tidak diikuti sama sekali dengan melakukan tiga hal tersebut, maka ia masuk kategori “tamanniy” (berangan-angan).


Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala ‘Anid Dawaaisy-syafi

Izzatul Islam – Senandung Perjuangan

mari bersenandung sejenak.. 😉


Hidup adalah perjuangan
Tegakkan panji kebenaran
Tanpanya hidup percuma
Hingga sesal di akhir masa

Aral lintang selalu menghadang
Jadi sebuah kepastian
Namun jiwa tak kenal gentar
Langkah ini kan terus berjalan

Karena dakwah nafas kehidupan
Tarbiyah sendi perjuangan
Membentuk generasi rabbani
Junjung tinggi kalimat Illahi

Takkan gentar takkan pernah ragu
Walau musuh menerjang menderu
Berbekal taqwa terus melaju
Ridho-Nya jua kan dituju

Duhai ayah bunda tercinta
Relakan nanda pergi berjuang
Di bawah naungan panji Islam
Doa restu selalu kudambakan

Wahai mukminin, bangkitlah bangkitlah
Bersabar, bersatu, bertaqwa
Kepal jarimu, tegak jiwamu
Kemenangan Islam 'kan menjelang

Lisan 2.0

Era Informasi. Era informasi telah melahirkan saudara baru bagi lisan-lisan kita. Saudara baru itu kemudian diberi nama teks.

Namun kita mafhum, sesuai firmanNya dalam Al-Balad, bahwa lisan kita -dan derivat-derivatnya- hanyalah organ netral yang terbentang di depannya dua jalan. Lisan mampu menyatakan keimanan, lisan juga yang mampu menyatakan kekufuran. Lisan bisa menebarkan dusta dan kebencian, lisan juga yang bisa menyebarkan rahmat dan kebenaran. Lisan dapat menjatuhkan kita ke dasar neraka, lisan juga yang dapat mengantarkan kita meraih kedudukan terbaik di sisi-Nya.

Kini zaman sudah berubah. Yup, hanya zamannya. Apa kita ikut berubah? Belum tentu. Yang jelas lisan kita kini semakin ‘panjang’. Kalau dulu memuji atau mencaci itu mesti dilakukan di hadapan orang, sekarang dari kamar mandi pun bisa! Kalau dulu memberi nasihat harus dilakukan dari jarak dekat, sekarang dari atas genteng pun bisa! Kalau dulu ngegosip dan membicarakan aib itu sambil kongkow-kongkow, maka sekarang sambil push-up pun bisa!

Pada akhirnya, berbagai fasilitas yang bermunculan di era ini, sejatinya hanya memperjelas siapa diri kita sebenarnya. Namun yang jelas kita perlu berhati-hati. Karena setiap hal yang dulunya hanya dapat keluar melalui lisan, kini dapat pula keluar melalui teks. 24 Jam! Sehingga jika lisan mendapat porsi hisab yang cukup besar di hari kiamat kelak, maka bagi kita pengguna lisan 2.0, barangkali ‘jempol’ kita pun akan memiliki porsi hisab yang cukup besar. Wallaahu a’lam.

*nb: mungkin bagus juga membudayakan istighfar setiap ngetwit, komen, atau update status.. 😉

Mengubah Dunia dengan Komen dan Nge-Like

Ok, mungkin judulnya agak lebay. Tapi biarlah, toh tukang batu pun boleh bercita-cita membangun peradaban 😉

Mengenai ini tampaknya sudah diketahui sebagian besar pengguna facebook, namun belum termanfaatkan dengan optimal.

Begini, dalam facebook ada sebuah fitur bernama Top News pada News Feed. Top News ini adalah kumpulan update dari teman-teman yang mendapat rating paling tinggi. Top News ini akan otomatis ditampilkan ketika kita baru melakukan login lagi setelah jangka waktu tertentu.

Bagaimana sebuah update bisa mendapat rating yang tinggi? Berdasarkan pengamatan setidaknya ada 3 (tiga) aspek yang dinilai: [1] jumlah ‘like’, [2] jumlah komen, dan [3] waktu update (semakin baru, nilainya semakin tinggi).

Nah, berarti dengan mengomentari atau menge-like sebuah status / update, semakin besar kemungkinan status / update tersebut untuk menjadi Top News dan menjadi update pertama yang dilihat teman-teman kita ketika login. Semakin besar kemungkinan status / update tersebut menjadi info pertama yang masuk ke otak teman-teman kita.

Kalau yang kita sentuh (untuk mempermudah menyebut ‘like atau komen’) adalah update yang baik, benar, dan bermanfaat, maka itulah yang akan lebih cepat masuk ke otak teman-teman kita.
Kalau yang kita sentuh adalah update yang kurang penting, maka itu juga yang akan lebih cepat sampai pada teman-teman kita.
Kalau yang kita sentuh adalah update yang memicu perselisihan dan permusuhan (pokoknya yang jelek-jelek dah), maka itu pula yang akan lebih cepat tertanam di benak teman-teman kita.

Maka berhati-hatilah, dan manfaatkanlah sepersekian detik yang Anda gunakan untuk menyentuh sebuah status / update. Barangkali itulah yang menentukan akan seperti apa wajah dunia di masa yang akan datang.

😉

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
[TQS. Al-Zalzalah: 7-8]