Kecil-Kecil Jadi Jagoan

Semua superhero -baik yang berasal dari Amerika, Jepang, Indonesia, maupun dari seluruh mancanegara lainnya- umumnya datang dengan membawa suatu misi yang sama: membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Satu atau dua superhero sudah cukup untuk menjaga seluruh kota. Bagaimana jika satu kota isinya superhero semua?

Haha, becanda ya?

Serius! Ternyata ada sebuah peradaban yang mengajarkan para orang tua untuk mempersiapkan anak-anaknya menjadi superhero. Gak percaya? Berikut kutipan dari buku referensi utama peradaban tersebut,

“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu..”
[TQS. Luqman: 17]

Yap, demikianlah peradaban Islam mengajari kita (salah satu) cara mendidik anak-anak kita. Yaitu dengan menanamkan benih-benih kepahlawanan itu sejak dini. Yaitu dengan menumbuhkan semangat membela kebenaran dan membasmi kejahatan (amar ma’ruf dan nahi munkar) itu sejak kecil. Wallaahu a’lam.

😉

[credit to Husni Mubarak]

Jalan yang Nikmat, atau Jalan Orang-Orang yang Diberi Nikmat?

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” [TQS. Al-Faatihah: 5-6]

Demikian do’a yang kita sampaikan -minimal- tujuh belas kali dalam satu hari. Nah, siapakah orang-orang yang telah dianugerahkan nikmat tersebut? Ibnu Katsir, senada dengan yang disampaikan Ibnu Abbas, menafsirkan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang disebutkan Allah dalam QS. An-Nisaa’: 69, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang shalih. Uniknya, jalan orang-orang diberi nikmat ini, rasanya sulit untuk dikatakan sebagai sebuah jalan yang ‘nikmat’ (secara zhahir)..

😉

Strategi ‘MU’

Dari @faraziyya, dari buku Demi Hidup Lebih Baik, terangkum…


Adalah kaidah dalam Islam, karena Allah menciptakan surga dan neraka, berarti Allah memang telah menyiapkan penghuninya. Dan itu artinya, kita tidak akan semuanya masuk surga. Jika Allah mau, maka Allah akan memberi petunjuk pada semua manusia, Allah akan mencabut syahwat, Allah akan mematikan setan. Tapi skenario kehidupan tidak demikian. Di ujung hidup ada surga dan neraka, dan di awal perjalanan ada setan dan syahwat.

Maka dimulailah panggung kehidupan manusia. Manusia melawan syahwat dan setan dalam waktu bersamaan. Allah memang menurunkan pembantu2 untuk menolong manusia, tapi tidak menyeluruh. Dan tentu saja, setan tetap tidak dimatikan. Allah hanya memberi manusia ‘perlengkapan tempur dan perang’ . Bagaimana cara dan strategi kita bertempur dan berperang, dikembalikan pada manusia itu sendiri. Dan inilah kaidahnya, surga tidak diberikan kepada manusia secara cuma-cuma. Pahami kaidah ini, dan mari kita menyiapkan diri melakukan ‘pertempuran’.

Selain kaidah diatas, ada beberapa hal yang perlu dipahami: Iman berada dalam hati yang sifatnya berubah-ubah, tidak permanen. Juga bahwa aturan dalam agama tidak menghilangkan kekuatan2 jahat dalam hati manusia, tetapi me-minimalisasi-nya. Karena itu, dosa adalah keniscayaan. Yang dalam keniscayaan itu, Allah telah persiapkan jalan kembali bernama taubat.

Allah ciptakan receiver dalam diri kita untuk menerima godaan setan, bernama syahwat. Itu telah disiapkan bahkan sejak kita terlahir ke dunia. Dan diluar diri, ada setan yang selalu siap mengirimkan sinyal2 negatifnya. Inilah inti persoalan utama. Ada  tujuh cara setan dalam mempengaruhi manusia. Dan setelah mengetahui  tujuh cara ini, cari tahu, kita berada di tingkat berapa?

Pertama, setan selalu mengajak manusia untuk syirik atau kufur. Kalau lolos dari jebakan pertama, setan tidak putus asa, dan telah menyiapkan jebakan kedua, yakni: bid’ah. Bid’ah adalah melaksanakan ibadah dalam agama, tanpa pengetahuan. Juga adalah kejahatan terbesar setelah syirik. Mereka menambah2 apa yang tidak perlu ditambah dan megurangi apa yang seharusnya tidak boleh dikurangi. Karena bid’ah, semua amalan yang kita lakukan menjadi batal. Dan bid’ah ini berpotensi merusak agama itu sendiri.

Kalau kita memiliki iman, kita akan lolos dari jebakan pertama. Dan ketika kita berilmu, kita akan lolos dari jebakan kedua.

Tapi ia (setan), sudah menyiapkan jebakan yang ketiga, dosa-dosa besar. Asal usul dosa besar (menurut Ibnu Qayyim), ada empat: dosa binatang ternak, dosa binatang buas, dosa setan, dan dosa kekuasaan. Dosa binatang ternak yaitu makanan & seksual. Dosa binatang buas adalah membunuh, mengintimidasi, merampas, dan melakukan kekerasan. Dosa seperti ini tidak banyak pelakunya, karena pelaku harus memiliki kekuasaan dan kekuatan, kemauan dan keberanian.

Dosa setan, yakni menipu, memperdaya, memanipulasi, pekerjaannya membuat makar. Bagi pelaku dosa (setan) ini, dibutuhkn kecerdasan diatas rata-rata. Biasanya mereka politisi, intelijen, pedagang, perekayasa kejadian. Asal usul dosa ke-4 (paling tinggi), dosa kekuasaan: pelakunya suka memperhamba manusia lain dan senang dituhankan.

Ketahuilah, tabiat dosa: ia selalu berusaha mengajak kita mengunjungi ‘saudara-saudara’nya (beragam dosa) yang lain. Ada yang imannya cekup kuat untuk bertahan di depan dosa-dosa besar, mereka lolos karena memiliki ketakwaan yang cukup tinggi kepada Allah SWT. Tapi dengan tidak putus asanya, setan telah menyiapkan jebakan lain, yakni: dosa-dosa kecil.

Dia memang tidak berzina, tapi melihat sedikit bolehlah. Dia tidak mncuri, tapi mencicipi sedikit tidakk masalah. Dia tidak menipu, tapi tidak jujur tak jadi soal. Sepanjang hari, kita memang banyak melakukan kebaikan. Tapi di saat yang yang sama, kita juga terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil. Sebenarnya, Allah sudah menyiapkan mekanisme pembersihan dosa-dosa kecil: wudhu diantara waktu shalat, dll. Tapi persoalannya, ide besar memperbanyak dosa-dosa kecil ini adalah: Membunuh Imunitas Kita Terhadap Perasaan Berdosa.

Meski begitu, ada sekelompok manusia yang mempunyai sikap wara’ yang sangat tinggi. Sensitivitasnya atas dosa sangat tinggi, betapapun kecil jenis dosanya. Untuk mereka yang seperti ini, setan telah menyiapkan tahapan selanjutnya, yakni: memperbanyak perbuatan mubah.

Dampak perbuatan mubah terhadap ibadah seseorang, mengusik formula penggunaan waktu oleh seorang muslim: 1 unit waktu = 1unit amal. Inilah konsep setan memanipulasi manusia. Mubah, memang kita tidak melakukan dosa tapi juga tidak mencetak pahala. Jika dibiarkan, akan mengganggu yang lain. Kita harus merancang kehidupan kita berputar di antara wajib dan sunnah. Bahkan kita harus mengubah sesuatu yang mubah menjadi pahala (dengan membenarkan niat). Tapi ketika ada orang yang mampu mengubah yang mubah menjadi pahala, setan tidak menyerah dan telah menyiapkan jebakan kelima: jebakan pengurangan.

Dibuat untuk berdosa, setan tidak bisa. Didorong untuk melakukan perbuatan mubah pun susah. Maka setan membujuk kita mengurangi pahala.

Tapi ada manusia yang sampai pada kelas kesempurnaan. Biasanya yang sampai kelas ini adalah para nabi. Pada tahap ini setan akan menyerang langsung secara fisik. Coba perhatikan, makin beriman seseorang makin ia dibenci oleh manusia lainnya. Setan menggerakkan tentaranya menciptakan rasa benci pada sosok-sosok ini.

Sekarang pertanyaannya adalah: ada di kelas berapa kita menghadapi setan? Ada yang grafiknya terus meningkat, tapi ada yang turun. Tapi yang penting adalah: menentukan finishnya. Semoga kita mampu mengakhiri cerita hidup kita dengan garis grafik yang paling tinggi di garis finish.

Hal yang membuat kita stabil dalam berbagai kondisi adalah ilmu. Karenanya, penambahan ilmu harus dilakukan terus-menerus (juga pengetahuan tentang diri dan setan). Biasakan berada di lingkungan orang-orang shaleh. Lakukan terus-menerus usaha untuk mengontrol gerakan hati & motif. Lakukan juga zikrul maut. Kenali kelemahan diri dan kontrol kondisinya. Semoga Allah melancarkan ikhtiar kita untuk terus berada pada posisi stabil dalam kebaikan.

 


Semoga bermanfaat… 😀

Doa

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami..
Jalan yang dilalui oleh orang-orang terbaik sebelum kami
Jalan yang dilalui oleh orang-orang terbaik dari pengikut-Mu
Jalan yang dilalui oleh para nabi dan rasul
Jalan yang dilalui oleh orang-orang yang ridha kepada-Mu dan Engkau ridha kepada mereka
Jalan yang dilalui oleh para syuhada’
Jalan yang dilalui oleh orang-orang shiddiiq dan orang-orang shalih
Jalan yang dilalui oleh orang-orang yang kelak mewarisi surga firdaus-Mu, ya Allah..

Tunjukkanlah jalannya bagi kami, ya Allah..
Dan karuniakanlah bagi kami,
Keistiqamahan dalam menempuhnya
Kaki yang cukup kokoh untuk menapaki segala rintangannya
Dan pundak yang cukup lebar untuk memikul setiap beban amanah
yang Engkau berikan pada kami di jalan ini dengan sebaik-baiknya, ya Allah..

Aamiin..

Solusi Kemacetan di Jalan

Disampaikan salah seorang rekan lulusan S2 Teknik Sipil sudah lama waktu yang lalu…

Bahwa pelebaran jalan atau pembuatan jalan layang mungkin bukan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan (tapi perbaikan jalan sih iya..). Kenapa? karena diperkirakan jumlah pengguna kendaraan bermotor akan terus meningkat. Bahkan setelah dilakukan simulasi, sekalipun seluruh pengguna jalan menggunakan jalan sesuai peraturan, kemacetan akan tetap terjadi. Karena volume kendaraan yang melebihi daya tampung jalan. Oh iya, motor yang nyelip-nyelip ternyata justru bisa meningkatkan kelancaran lalu lintas :p

Terus, gimana solusinya? Ternyata salah satu solusinya cukup sederhana, mulailah membiasakan diri menggunakan kendaraan umum untuk bepergian, khususnya untuk perjalanan yang tidak begitu jauh. Denger-denger bahkan di Jogja sudah ada kebijakan untuk menggunakan sepeda kalau bepergian dengan jarak kurang dari 5 km (belum dicek lagi). Kalau banyak orang mulai memilih menggunakan kendaraan umum, bisa jadi ada banyak manfaatnya: (ini belum pake analisis macem2)

  1. Mengurangi volume kendaraan -> mengurangi kemacetan
  2. Mengurangi jumlah angkutan umum yang ngetem nunggu penumpang
  3. Mengurangi emisi dari bahan bakar -> membersihkan lingkungan
  4. Memperbanyak silaturahim dengan orang yang belum dikenal (ngarang ini mah)
  5. Menambah penghasilan supir angkutan umum
  6. (ada lagi gak ya?)

Lebih top lagi kalo ditambah kerjasama pemerintah dengan mengurangi pajak untuk kendaraan umum. Harga murah, semua senang.. 😀

(oh iya, ada solusi lain, mulailah bepergian menggunakan onta..)